MUATAN POLITIK DIBALIK PENGUNGKAPAN KASUS BANK CENTURY
Beberapa minggu belakangan ini yang menjadi atensi masarakat luas adalah masalah kasus Bank Century. Perang opinipun terlihat tampak jelas, ibarat tanpa sebuah sensor opini tersebut muncul tanpa adanya data pendukung yang jelas, publikpun seolah-olah dibingungkan oleh berbagai macam opini yang yang menyesatkan. Opini-opini tersebut cenderung megarahkan opini publik untuk mendiskreditkan individu-individu yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Diperparah oleh media komunikasi yang cendrung mendiskreditkan pemberitaan, dan adakalanya pemberitaan tersebut cendrung menggiring opini publik kesebuah character assassination.
Pemberitaan yang tidak berimbang kadang membuat pihak-pihak tertentu merasa dirugikan, sedangkan rakyat yang hanya sebagai penonton sebenarnya paling dirugikan digiring kesebuah opini yang benar-benar menyesatkan.
Sebuah pembunuhan karakter yan sangat keji dan yang sangat menyesatkan. Mereka berduyun-duyun mengatasnamakan rakyat. Berteriak-teriak seolah-olah mereka ada dibelakang rakyat. Diperparah oleh orang-orang yang ada dibelakang adalah orang-orang yang sangat memuakan. Mereka berkoar-koar menyampaikan opini yang sangat memuakan tanpa dasar fakta yang jelas. Mengklaim bahwa mereka punya sumber data yang bisa dibuktikan kebenarannya. LSM-LSM tertentu juga ikutan nebeng beken dari kasus yang ada. Mereka setiap hari berseliweran dimedia memulai mencari simpati rakyat. mereka sebenarnya ikut memperkeruh suasana tanpa penyelesain yang jelas, andil mereka dalam memutarbalikan fakta dan cendrung menjatuhkan kredibilitas pemerintah, dan yang lebih parahnya mereka seolah-olah yang paling pintar dalam menyelesaikan permasahan yang ada. Adakalanya mereka kadang sangat berlebihan yang tidak punya sopan santun sama sekali.
Memanfaatkan opini public yang cendrung diskriminatif adalah sebuah peluang bagi mereka untuk mengoyang eksistensi pemerintah. Dan bagi mereka yang mudah dihasut pemigkirannya otomatis akan menyalahkan pemerintah, seolah-olah setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah tidak memiliki kebenaran sama sekali. Yang menjadi korbannya tentu saja rakyat yang sama sekali tidak mengerti tentang persoalan-persoalan tersebut. Kebijakan yang sebenarnya untuk kepentingan khalayak luas dihambat oleh permasalahan tersebut, mereka cendrung mengganggu konsentrasi pemerintah dalam menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah diputuskan.
Sungguh sebuah ironi dari sebuah demokrasi yang sebenarnya diperuntukan bagi sebesar-besarnya utnuk kepentingan rakyat, menjadi sebuah demokrasi yang kebablasan dimana kepentingan pribadi dan golongan menjadi sebuah tujuan utama.
Dan yang paling parah dalam pemecahan kasus Bail-out Bank century adalah adanya muatan politik yang terasa begitu luar biasa. Pemecahan yang awalnya bertujuan untuk membuat jelas apa yang sebenarnya bersalah dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kasus tersebut seolah-olah diselewengkan. Mereka bertindak atas kepentingan golonganya, tentu saja kepentingan yang mampu menarik simpati masyarakat yang nanti akan menjadi sumber untuk membangun sebuah kekuasaan yang tentunya akan menguntungakan golongan mereka sendiri. Sungguh sebuah hinaan bagi rakyat, mereka yang awalnya bekerja untuk menyelesaikan masalah bukannya menyelesaikan masalah yang sudah ada, tetapi mereka cendrung membuat permasalahan tersebut mebuat semuannya tambah runyam. Betapa memalukanya mereka.
Sungguh naïf kalau kita tidak mengakui bahwa krisis hampir saja menimpa negeri ini, tetapi jasa mereka seolah-olah dilupakan begitu saja, begitu cepatnya mereka melupakan semuanya, jasa-jasa mereka yang mempunyai kredibilitas dibidangnya, dikebiri oleh mereka yang mempunyai kepentingan tetapi mengatasnamakan rakyat yang sebenarnya sudah muak dengan itu semua.
Mungkin ini adalah sebuah efek domino dari apa yang namanya sebuah demokrasi yang kebablasan, melupakan jasa-jasa orang yang sudah menyumbangkan buah pemikiran dan sumbangsih yang tidak bisa dinilai dengan apapun. Tetapi mereka lebih cendrung melupakan segalanya, lupa akan sumbangsing mereka, Lupa akan jasa besar mereka yang telah menjaga negeri ini agar tetap bisa berdiri kokoh. Mungkin ini adalah sebuah budaya yang sudah mendarah daging di negeri yang tercinta ini. Budaya yang disebakan oleh kepentingan politik dan kepentingan golongan bagi mereka yang merasa tidak pernah puas.
Dalam sebuah pemecahan masalah besar yang terjadi di negeri ini apabila penyelesainnya dimuati oleh kepentingan politik golongan tertentu niscaya tidak akan ada penyelesain yang pasti, dan ada kecendrungan bahwa permasahan tersebut akan berlarut-larut. Adakalanya juga penyelesaian masalah tersebut menjadi sebuah bargaining Politic bagi mereka yang punya kepentingan politik. Niat yang awalnya sangat menggebu-gebu menjadi layu sebelum berkembang. Dan akhirnya kembali yang paling dirugikan tentu saja rakyat.
Mereka yang berdiri dibalik bergulirnya hak angket tersebut bukanlah orang yang baru muncul kepermukaan, tetapi mereka adalah orang-orang yang punya pandangan politik berbeda dengan pemerintah. Sehingga kasus tersebut yang awalnya murni untuk menjawab semua keinggin tahuan rakyat atas apa yng sebenarnya terjadi menjadi berbelok arah keranah politik, yang tentu saja tanpa penyelesain yang jelas. Berlarut-larut memakan waktu yang tidak sedikit, yang akhirnya tentu saja melenceng dari permasalahan awal.
Ketika semuanya sudah berbelok keranah politik semuanya akan menjadi suram, rakyat yang sebenarnya ingin tahu siapa yang sebenarnya bersalah tentu saja harus menunggu sabar sampai batas kesabaran mereka habis yang tidak pernah dimengerti oleh para politikus-politikus busuk dinegeri tercinta ini.
Berbeda pandangan dalam era demokrasi adalah hal yang sangat wajar, tetpi jika demokrasi itu sudah kebablasan yang menghalkan segala cara niscaya semuanya akan berakhir dengan kebohongan-kebohongan dimana- dima.
Berpikir dengan pemikiran yang sehat adalah sebuah jalan yang paling ampuh menuju kebenaran sejati. Focus terhadap permasalahan yang ada dengan semangat kebersamaan tentu saja akan menjadi sebuah sejata ampuh dalam mengatasi permasalahan yang ada.
I Nyoman Gede Mahayuna, S.S.